Karena Yakin dan Lugu
Maret 13, 2007
linggar
Dul Mungin, warga desa dari Kabupaten Trenggalek Jatim, sangat bersemangat ingin memasuki dunia tarekat sufi. Akhirnya cita-citanya tercapai. Ia berbai’at kepada Musryid Tarekat itu di Tulung Agung. Selang lima tahun kemudian, ia bersilaturrahim ke tempat Mursyidnya, lalu mengikuti jamaah dzikir di mushallanya. Usai berdzikir wajahnya tampak berkeringat, sambil mengusap-usapkan tangan ke mukanya, seorang kawan bertanya padanya:“Ada apa Kang Dul, kok kelihatan aneh?”
“Baru kali ini saya ikut dzikir bersama. Rasanya kok lama sekali.”
“Lama bagaimana? Biasanya juga satu jam selesai….”
“Lho, kok sampai satu jam ya. Saya itu kalau dzikir sendirian paling lama cuma sepuluh menit.”“Lho, kok cepat sekali, yang sampean baca itu apa?”
“Saya membaca wirid sesuai dengan petunjuk di sini…”
“Pasti ada yang tidak beres ini, tuntunannya bagaimana?”
“Kata pembimbing, dulu saya diminta baca surat al-Fatihah seratus kali, syahadat seratus kali, takbir seratus kali, dan seterusnya ada hadiah fatihah. Lalu istighfar seratus kali, shalawat seratus kali dan tahlil seratus kali…”“Lho, itu sudah benar. Tapi bagaimana Anda melakukan itu?”
“Karena perintahnya begitu ya begitu. Jadi saya baca begini…. al-Fatihah seratus kali…. Selesai begitu saya baca syahadat seratus kali…seperti bunyi tulisan itu….”Kawan yang mendengar itu tak mampu menahan ledakan tawanya, dan membuat Dul Mungin semakin terheran-heran.“Maksudnya begini Kang Dul. Surat al-Fatihah itu diulang seratus kali jumlahnya. Bukan al-Fatihah seratus kali, selesai…., begitu!”
Dul Mungin hanya manggut-manggut. Padahal cara Dul Mungin itu sudah berlangsung lima tahun lamanya.
Entry Filed under: Uncategorized
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed