Mereka Yang Enggan Berkawin

Maret 5, 2007 linggar

Kawin adalah Sunnah Rasulullah s.a.w. dan Sunnah para Nabi-nabi, dan fitrah yang sesuai dengan naluri manusia. Mereka yang tidak mahu berkawin dan enggan berkawin adalah bermakna mereka telah mensia-siakan hidupnya di dunia yang telah disediakan Allah untuk hambanya-Nya menikmati segala pengkaruniaan-Nya.

Islam melarang ummatnya hidup membujang tanpa berkawin dengan tujuan untuk menjauhkan diri dari menikmati kesedapan berkelamin dan kesenangan hidup di dunia serta mengelakkan diri dari menikmati kegembiraan berkeluarga dan tidak ingin mempunyai keturunan.

Dalam Islam berkawin merupakan suatu perkara yang diharuskan, karena dengan perkawinan itu akan berkembang biak ummat Nabi Muhammad s.a.w., dimana baginda adalah merasa bangga dan bergembira dengan sebab banyak ummatnya. Ini telah dinyatakan oleh Rasulullah s.a.w dalam hadistnya yang diriwayatkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqas :

“Berkawinlah kamu, Maka sesungguhnya aku di hari qiamat kelak akan bergembira dengan sebab banyak ummatku. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang – orang Nasrani bertapa hidup membujang”.

Mereka yang enggan berkawin, Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadisth dari Anas bin Malik, katanya : Tiga orang sahabat datang berkunjung ke rumah isteri-isteri Rasulullah s.a.w. menanyakan tentang ibadah yang dikerjakan oleh Baginda. Setelah tiga orang sahabat tadi mendapat jawaban dari isteri-isteri Baginda, mereka merasa bahwa ibadah mereka itu bila dibandingkan dengan ibadah Rasullah s.a.w. adalah terlalu sedikit dan sangat-sangat “kurang”.

Mereka berkata sesamanya: “Bagaimana ibadah kita? Padahal Baginda adalah orang yang ma’shum – tidak sedikit pun mempunyai dosa, dan Allah telah mengampunkan dosanya yang telah lalu dan akan datang?. “Maka salah seorang dari mereka itu berkata: “Aku akan sembahyang Tahajjud setiap malam.” Dan seorang yang lain akan berkata:”Aku akan berpuasa sepanjang tahun, dan tidak akan berbuka.” Dan seorang yang lain lagi berkata: “Aku akan mengasingkan diri dari orang perempuan, dan aku tidak akan berkahwin selama-lamanya (hidup membujang)” Maka datang Rasulullah s.a.w., lalu bersabda:

Kamu semua berkata begitu? Ingat dan ketahuilah, demi Allah, aku adalah orang yang sangat takut terhadap Allah, dan sangat taqwa kepada-Nya, tetapi aku berpuasa dan kadang-kadang aku (tidak berpuasa), dan aku sembahyang, dan aku tidur, dan aku juga berkawin dengan perempuan. Maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku, mereka itu bukanlah pengikutku (bukan dari kalangan ummatku). (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Mereka yang enggan berkawin (hidup membujang) seumur hidupnya, padahal mereka mampu menunaikan tanggungjawab terhadap isterinya zahir dan batin, maka bermakna mereka telah mengharamkan sesuatu perkara yang halal ke atas diri mereka sendiri, dan mereka juga termasuk orang yang menentang hukum Allah dari Sunnah Rasul-Nya.

Dalam masalah ini, At-Tabari berkata: “Sahabat Rasulullah s.a.w bernama ‘Uthman bin Maz’un mengharamkan ke atas dirinya seorang perempuan, benda-benda yang baik dan semua benda yang sedap dan lezat. Dengan pengharaman tersebut, Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan benda-benda yang baik yang telah dihalalkan oleh Allah bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas pada apa yang telah ditetapkan halalnya itu, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas. (Surah al- Ma’iddah:87)

Sehubungan dengan ini, diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas:

Seorang lelaki mengadu dan bertanya kepada Rasulullah s.a.w. mengenai orang yang membujang (tidak berkawin) selama-lamanya, katanya: ” Bolehkah aku membujang?” Baginda menjawab dengan sabdanya:

Tidak ada dalam agama kita orang yang membujang. (Riwayat Tabrani)

Dalam masalah ini, Sa’ad bin Waqqas berkata:

Rasulullah s.a.w. telah melarang sahabatnya ‘Uthman bin Maz’un hidup membujang (tanpa berkawin). Andainya Baginda mengizinkan ‘Uthman bin Maz’un membujang (tanpa berkawin), tentulah kita “harus” membujang. (Riwayat Bukhari)

Entry Filed under: Munakahat

2 Comments Add your own

  • 1. dedi  |  Maret 9, 2007 pukul 9:42 am

    Assalamualaikum wr wb
    Kira-kira ada solusi ga untk mereka/para pembujang yg tidak mempunyai materi/wang yang cukup untuk naik kepelaminan, tetapi mereka sangat menginginkannya untk menjauhi diri dari berbuat maksiat(zina)…????

    wassalam.

  • 2. linggar  |  Maret 13, 2007 pukul 5:13 am

    walaikum salam wr.wb

    jika mereka belum mampu untuk melakukan pernikahan
    maka,lebih dianjurkan untuk mengerjakan puasa.
    dan mendekatkan diri kepada Allah.
    karena orang yang mendekatkan diri pada-Nya,
    insyaAllah, mereka akan terhindar dari berbuat maksiat karena merasa takut terhadap balasan yang Allah berikan kepada mereka kelak.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Maret 2007
S S R K J S M
    Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: