Zina

Maret 5, 2007 linggar

Ialah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa nikah yang sah mengikuti hukum syara’ (bukan pasangan suami isteri) dan kedua-duanya orang yang mukallaf, dan persetubuhan itu tidak termasuk dalam ta’rif (persetubuhan yang meragukan).

Jika seorang lelaki melakukan persetubuhan dengan seorang perempuan, dan lelaki itu menyangka bahwa perempuan yang disetubuhinya itu ialah isterinya, sedangkan perempuan itu bukan isterinya atau lelaki tadi menyangka bahwa perkawinannya dengan perempuan yang disetubuhinya itu sah mengikut hukum syarak, sedangkan sebenarnya perkawinan mereka itu tidak sah, maka dalam mas’alah ini kedua orang itu tidak termasuk zina dan tidak boleh dikenakan hukuman hudud, karena persetubuhan mereka itu adalah termasuk dalam wati’ subhah yaitu persetubuhan yang meragukan.

Menurut hukuman syara’ yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadisth yang dikuatkan dalam undang-undang Qanun Jinayah Syar’iyyah bahwa orang yang melakukan perzinaan itu apabila kesalahan di dalam mahkamah wajib dikenakan hukuman huddud, yaitu dicambuk sebanyak 100 kali. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bermaksud :

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, hendaklah kamu cambuk tiap-tiap seorang dari kedua-duanya 100 kali cambukan, dan janganlah kamu dipengaruhi oleh perasaan belas kasihan terhadap keduanya dalam menjalankan hukum Agama Allah, jika benar kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah disaksikan hukuman siksa yang dikenakan kepada mereka itu oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (Surah An- Nur ayat 2)

ZINA TERBAGI KEPADA DUA :

1. ZINA MUHSAN
2. ZINA BUKAN MUHSAN

ZINA MUHSAN

Yaitu lelaki atau perempuan yang telah pernah melakukan persetubuhan yang halal (sudah pernah kawin)

ZINA BUKAN MUHSAN

Yaitu lelaki atau perempuan yang belum pernah melakukan persetubuhan yang halal (belum pernah kawin).

Perzinaan yang boleh dituduh dan didakwa dibawah kesalahan Zina Muhsan ialah lelaki atau perempuan yang telah baligh, berakal, merdeka dan pernah kawin, Yaitu pernah merasakan kenikmatan persetubuhan secara halal.

Penzinaan yang tidak mencukupi syarat-syarat yang disebutkan bagi perkara di atas tidak bisa dimasukkan ke dalam kesalahan zina muhsan, tetapi mereka itu boleh dituduh dan didakwa dalam kesalahan zina bukan muhsan mengikuti syarat-syarat yang dikehendaki oleh hukum syarak.

HUKUMAN YANG DIKENAKAN KEPADA ORANG YANG ZINA MUHSAN DAN BUKAN MUHSAN

Seseorang yang melakukan zina Muhsan, sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan kepada mereka hukuman had (rajam) yaitu dilempari dengan batu yang lumayan besarnya hingga mati. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam kitab I’anah Al- Thalibin juzuk 2 muka surat 146 yang bermaksud :

”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina muhsan wajib dikenakan kepada mereka had (rejam), yaitu dilempari dengan batu yang lumayan besarnya sehingga mati”.

Seseorang yang melakukan zina bukan muhsan sama ada lelaki atau perempuan wajib dikenakan kepada mereka hukuman cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun sebagaimana terdapat di dalam kitab Kifayatul Ahyar juzuk 2 muka surat 178 yang bermaksud :

”Lelaki atau perempuan yang melakukan zina bukan muhsin wajib dikenakan keatas mereka cambuk 100 kali sebat dan diasingkan selama setahun”.

PEREMPUAN YANG DIPAKSA DAN DI PERKOSA

Perempuan-perempuan yang dipaksa atau diperkosa oleh lelaki yang melakukan perzinaan dan telah dicambuk dengan bukti –bukti yang diperlukan oleh syara’ dan tidak menimbulkan sedikit keraguan di pihak hakim bahwa perempuan itu dipaksa dan diperkosa, maka dalam mas’alah  ini perempuan itu tidak boleh dijatuhkan dan dikenakan hukuman hudud, dan ia tidak berdosa dengan sebab perzinaan itu.

Lelaki yang memaksa atau memperkosa perempuan melakukan perzinaan dan telah dicambuk kesalahannya dengan bukti – bukti dan keterangan yang dikehendaki oleh syara’ tanpa sedikit keraguan di pihak hakim, maka hakim hendaklah menjatuhkan hukuman hudud kepada lelaki yang memaksa perempuan itu, yaitu wajib dijatuhkan dan dikenakan kepada lelaki itu hukuman rajam dan cambuk.

Perempuan-perempuan yang telah dicambuk oleh hakim bahwa ia adalah dipaksa dan diperkosa oleh lelaki melakukan perzinaan, maka hakim hendaklah membebaskan perempuan itu dari hukuman hudud (tidak boleh dirajam dan dicambuk) dan Allah mengampunkan dosa perempuan itu di atas perzinaan secara paksa itu.

Entry Filed under: jinayat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Maret 2007
S S R K J S M
    Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: