Fudhail bin Iyadl At-Tamimy

Maret 13, 2007 linggar

Profil ulama akherat, zuhud, wara’, dan tidak rakus kekuasaan

Beliau adalah keturunan Bani Yarbu’, biasa dipanggil dengan Abu Ali. Lahir di kota Khurasan. Setelah dewasa ia pindah ke Kufah dan belajar hadits di sana serta memperbanyak ibadahnya. Kemudian pindah ke Makkah dan wafat di sana.
Ishaq bin Ibrahim berkata, “Setiap malam, beliau menghamparkan tikar di dalam masjid, lalu melakukan shalat malam. Apabila mengantuk, beliau tidur sebentar, kemudian bangun dan melakukan shalat lagi. Apabila mengantuk, beliau tidur sebentar lalu bangun dan melakukan shalat lagi. Begitulah yang beliau lakukan sampai datang waktu shubuh.”

Ishaq berkata lagi, “Aku mendengar Fudhail r.a. berkata, ‘Apabila kamu tidak mempu melakukan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah, dan terbelenggu oleh kemaksiatanmu.”
Diceritakan oleh Fadhl bin Rabi’, bahwa pernah suatu tahun, khalifah Harun Ar-Rasyid melaksanakan haji. Lalu ia mendatangi Fadhl bin Rabi’. Kemudian mereka berdua mendatangi beberapa ulama untuk bertanya. Ternyata para ulama tersebut menyatakan bahwa sebaiknya khalifahlah yang memanggil mereka dan mereka datang, bukan khalifah yang datang kepada mereka. Pun para ulama, tersebut mau diberi hadiah oleh khalifah, dan hutang-hutang mereka dilunasi. Lalu tibalah mereka berdua di rumah Fudhail bin Iyadl r.a. Khalifah berkata kepadanya, “Ambillah hadiah ini”. Jawab Fudhail r.a., “Sesungguhnya ketika Umar bin Abdul Aziz memegang khilafah (kerajaan), beliau mengundang beberapa ulama untuk diajak musyawarah. Beliau berkata kepada mereka, ‘Aku telah diuji Allah dengan ujian yang berat. Maka berilah aku pendapat’. Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz menganggap memegang kekuasaan adalah suatu ujian. Tetapi kamu dan para pejabat lainnya menganggapnya sebagai nikmat. Diantara para ulama tersebut ada yang berkata kepada beliau, ‘Jika kamu ingin selamat dari adzab Allah SWT, maka cintailah Muslimin sebagaimana kamu mencintai dirimu, dan bencilah mereka sebagaimana kamu membenci dirimu sendiri’. Sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu tentang suatu hari yang waktu itu banyak kaki-kaki terpeleset (masuk neraka). Maka, adakah orang yang memberimu pendapat?”

Mendengar itu, Harun Ar-Rasyid menangis histeris, dan berkata kepada Fudhail r.a., “Tambahilah nasehatmu kepadaku”. Fudhail berkata, ”
Sesungguhnya Abbas, paman Rasulullah SAW pernah meminta jabatan kepada beliau. Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya kepemimpinan adalah kesengsaraan dan enyesalan di hari kiamat. Jika kamu bisa menolak supaya tidak jadi pemimpin, maka lakukanlah”. Harun Ar-Rasyid menangis lagi, dan meminta tambahan nasehat seperti tadi. Fudhail r.a. berkata, “Hai orang yang tampan rupa, esok pada hari kiamat, Allah SWT akan meminta pertanggungjawabanmu tentang rakyatmu. Maka jika kamu dapat menjaga wajahmu itu dari neraka, maka lakukanlah, dan janganlah menipu rakyatmu, karena Nabi SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang masuk waktu pagi dalam keadaan menipu, maka ia takkan mencium bau syurga”. Khalifah menangis lagi, dan bertanya, “Apakah kamu punya hutang, sehingga saya dapat melunasinya?” Fudhail menjawab, “Ya, saya punya hutang kepada Rabbku. Ia akan menanyakan tentang hutang itu. Celakalah aku jika Rabbku menanyaiku. Celakalah aku, jika Ia membicarakannya”. Khalifah berkata, “Ini ada seribu dinar. Terimalah buat nafkah keluargamu, dan untuk memperkuat ibadahmu”. Fudhail r.a. berkat, “Subhanallah, aku telah menunjukimu pada jalan keselamatan, tapi engkau malah memberiku imbalan seperti ini. Semoga engkau diselamatkan Allah SWT”. Lalu keluarlah khalifah dari rumah tersebut, sambil berkata kepada Fadhl bin Rabi’, “Jika kau menunjukkan kepadaku seorang alim, maka tunjukkanlah aku pada orang yang seperti ini (Fudhail)”.

Fudhail bin Iyadl r.a. wafat pada tahun 687 H. Semoga Allah merahmatinya, amiin . . . . .
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah, 11/159-164).
Oleh :
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Anekdot Fudhail Ibnu ‘Iyadh

Allah pun Cemburu
Suatu hari, Fudhail memangku seorang anak berusia empat tahun, dan menciumi pipinya sebagaimana kebiasaan para ayah.
“Ayah, apakah engkau mencintaiku?” tanya anak
“ya,” jawab Fudhail.
“Apakah engkau mencintai Allah?”
“Ya.”
“Berapa hati yang engkau miliki?” tanya anak itu Iagi.
“Satu,” Fudhail menjawab
“Dapatkah engkau mencintai dua hal dengan satu hati?” tanya anak itu
Seketika itu Fudhail sadar bahwa bukan anak itu yang bicara, sesungguhnya itu adalah instruksi ilahiyah. Dipenuhi rasa cemburu untuk Allah, ia mulai memukul mukul kepalanya dan bertobat. la mengambil hatinya dari anak itu, dan menyerahkannya kepada Allah.
***
Yang Maha Pemurah
Suatu hari, Fudhaid berdiri di Arafah. Seluruh jemaah haji di sana mcnangis dan meratap, merendahkan diri mereka dan memanjatkan doa yang remeh temeh.
“Subhanallah!” pekik Fudhail. “Jika.banyak orang menemui seorang pria pada satu waktu dan hanya meminta sekeping uang perak padanya, bagaimana menurut kalian? Apakah pria itu akan mengecewakan sedemikian banyak orang (dengan. menolak permintaan mereka)?”
Mereka menjawab, “Tidak”.
“Nah,” kata Fudhail, “jelas lebih mudah bagi Allah Yang Mahakuasa untuk mengampuni mereka semua ketimbang bagi pria itu untuk memberi sekeping uang perak. Karena Dia adalah Yang Maha pemurah dari yang pemurah, maka ada harapan jiwa Dia akan mengampuni semua.”
***
Dengan Cinta
Suatu kali, anak laki laki Fudhail mengalami gangguan buang air kecil. Fudhail datang dan mengangkat kedua tangannya.
Ia berdo’a, “Ya Tuhanku, dengan cintaku pada-Mu, sembuhkanlah ia dari sakitnya.”
Belum lagi ia bangkit dari duduknya, anaknya telah sembuh.
***
Doa Fudhail
FudhAil sering berdoa seperti ini: ‘Ya Allah, Ya Tuhanku, bermurah hatkilah pada-ku! Karena Engkau mengetahui tobatku; dan janganlah Engkau hukum aku, karena kekuasaan-Mu meliputiku.”
Lalu ia akan meneruskan, “Ya Allah, Engkau membuat aku terus lapar, dan Engkau membuat anak-anakku terus lapar. Engkau membuatku terus lelanjang, dan Engkau membuat anak anakku terus telanjang. Engkau tidak memberiku lentera di malam hari. Semua (keadaan) ini Engkau karuniakan kepada para sahabat-Mu. Stasiun spiritual apa yang telah dicapai Fudhail, sehingga ia mendapat amigerah ini dari-Mu?”
***

Senyuman Fudhail
Selama tiga puluh tahun, tidak ada scorang yang melihat Fudhail tersenyum, kecuali pada ketika anak laki-lakinya meninggal dunia. Ketika itu barulah ia tersenyum.
“Wahai Syekh, apakah saat ini merupakan hari yang tepat untuk tersenyum?”, Fudhail ditanya.
“Aku sadar, bahwa Allah ridha atas kematian anakku,”jawabnya. “Aku tersenyum karena aku ridha dengan keridhaan-Nya.”

 

Entry Filed under: Para Tokoh Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Maret 2007
S S R K J S M
    Jul »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: