Posts filed under: ‘tasawwuf‘




Sifat-sifat Mazmumah(buruk)

1. Syarrut ta‘am (banyak makan)

  • Yaitu terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh ketika makan atau minum.
  • Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan kita lalai untuk menunaikan ibadah dan zikrullah.
  • Makan dan minum yang berlebih-lebihan adalah dilarang walaupun tidak membawa kepada lalai dari menunaikan ibadah,tapi karena termasuk di dalam amalan mubazir.

2. Syarrul kalam (banyak bercakap)

  • Yaitu banyak berkata-kata atau banyak bicara.
  • Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang mendengar itu mudah merasa jemu.

3. Ghadhab (pemarah)

  • Gadhab berarti sifat pemarah, yaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan atau mendekati kejahatan.
  • Sifat pemarah adalah senjata bagi yang menjaga hak dan kebenaran. Oleh karena itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
  • Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.

4. Hasad (dengki)

  • yaitu menginginkan nikmat yang diperoleh oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.
  • Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripada dirinya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala karena termasuk ingin mengkaruniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
  • Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerusakan.

5. Bakhil (pelit)

  • Yaitu menahan haknya untuk dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang dituntut oleh agama.
  • Nikmat yang dikaruniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga membantu orang lain.Oleh sebab itu, nikmat dan pemberian Allah menjadi sia-sia jika tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata‘ala.
  • Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu kesalahan besar di sisi agama.

6. Hubbul jah (Mencintai kemegahan)

  • Yaitu memikirkan kemegahan, kebesaran dan pangkat, tetapi melupakan yang lainnya.
  • Perasaan menginginkan kemegahan dan pangkat kebesaran menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas karena Allah.
  • Akibat dari sifat tersebut bisa membawa kepada tipu daya sesama manusia dan bisa menyebabkan seseorang itu membelakang pada kebenaran karena menjaga pangkat dan kebesaran.

7. Hubbud dunya (Cinta dunia)

  • bermaksud menginginkan dunia, yaitu mencintai perkara-perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak membawa sedikit pun kebajikan di akherat.
  • Banyak perkara yang diinginkan oleh manusia yang terdiri dari kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat.
  • Oleh yang demikian, cinta dunia itu adalah mengutamakan perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya dari menunaikan kewajiban-kewajiban kepada Allah.
  • Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju keridhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.

8. Takabbur (sombong)

  • Yaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan congkak.
  • Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat.
  • Sifat takabbur ini tiada sedikit pun faedah, tetapi malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa kepada keluar daripada agama(murtad) karena enggan tunduk kepada kebenaran.

9. ‘Ujub (bangga diri)

  • Yaitu merasa atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.
  • Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahwa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahwa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.
  • Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahwa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.

10. Riya’ (menmamerkan kebaikan kepada orang lain)

  • Yaitu memperlihatkan dan menunjuk-nunjuk amalan kepada orang lain.
  • Setiap amalan yang dilakukan dengan tujuan menunjuk-nunjuk akan hilanglah keikhlasan dan menyimpang dari tujuan asal untuk beribadah kepada Allah semata-mata.
  • Orang yang riya’ adalah sia-sia segala amalannya karena niatnya telah menyimpang yang disebabkan oleh dirinya sendiri yang hanya menginginkan pujian dari manusia.
Iklan

1 komentar Maret 5, 2007

Zikrulmawat

  • Yaitu sentiasa mengingat mati dan sentiasa melakukan amalan-amalan yang baik.
  • Oleh karena seseorang itu akan mati, maka hendaklah ia melakukan amalan-amalan yang baik dan hendaklah ia memenuhkan tiap-tiap saat daripada umurnya itu dengan perkara yang berfaedah bagi akhiratnya karena tiap-tiap perkara yang telah lalu tidak akan kembali lagi.

Add a comment Maret 5, 2007

Mahabbah

  • Yaitu cinta kepada Allah subhanahu wata‘ala dengan mengingat-Nya pada setiap saat dan setiap keadaan.
  • Cinta Kepada Allah ialah dengan segera melakukan segala perintahNya dan berusaha mendampingkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunah dan bersungguh-sungguh menghindari maksiat serta perkara-perkara yang membawa kemarahan-Nya.

Add a comment Maret 5, 2007

Tawakkal

  • Yaitu menetapkan hati dan berserah kepada Allah pada segala perkara yang berlaku serta jazam (putus) pada i`tiqad bahawa Allah subhanahu wata‘ala yang mengadakan dan memerintahkan tiap-tiap sesuatu.
  • Berserah kepada Allah pada segala perkara itu hendaklah disertakan dengan ikhtiar dan usaha karena Allah menjadikan sesuatu mengikut sebab-sebabnya, seperti dijadikan pandai karena belajar, dijadikan kaya karena rajin berusaha atau berhemat cermat dan sebagainya.


Add a comment Maret 5, 2007

Syukur

  • Yaitu mengaku dan memuji Allah atas nikmat yang diberi dan menggunakan segala nikmat itu untuk berbuat taat kepada Allah subhanahu wata‘ala.
  • Tiap-tiap nikmat yang diberi oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada makhluk-Nya adalah dengan limpah kurnia-Nya semata-mata, seperti nikmat kesehatan, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Oleh karena itu, bersyukur dan berterima kasihlah atas nikmat-nikmat tersebut yang merupakan suatu kewajiban kepada Allah subhanahuwata‘ala.
  • Setiap nikmat juga hendaklah disyukuri karena orang yang tidak berterima kasih adalah orang yang tidak mengenang budi. Oleh sebab itu, hendaklah gunakanlah nikmat-nikmat Allah itu untuk menambahkan ibadah kepada Allah dan sangatlah keji dan hina jika menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menderhakai Tuhan yang memberi nikmat.
  • Add a comment Maret 5, 2007

    Sabar

    • Yaitu menahan diri daripada keluh kesah pada sesuatu yang tidak disukai.
    • Sifat sabar perlu ketika menghadapi tiga perkara berikut:

    1. Menahan diri daripada keluh kesah dan menahan diri dari mengadu kepada yang lain dari Allah subhanahu wata‘ala ketika mendapatkan kesusahan atau bencana.

    2. Menahan diri dalam mengerjakan segala perintah Allah.

    3. Menahan diri dalam meninggalkan segala larangan Allah.

    • Sifat sabar itu dipuji pada syara‘ karena seseorang yang bersifat sabar menunjukkan ia beriman dengan sempurna kepada Allah, dan menunjukkan ia taat dan menjunjung segala perintah agama.
    • Orang yang beriman kepada Allah mengetahui bawa segala perkara yang terjadi atas drinya adalah kehendak Allah yang tidak dapat dielak lagi. Begitulah juga orang yang taat, tidak akan merasa susah dalam mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

    Add a comment Maret 5, 2007

    Zuhud

    1. Artinya meninggalkan dunia melainkan kadar yang patut daripadanya.

    2. Zuhud yang sempurna ialah meninggalkan perkara lain selain Allah S.W.T.

    3. Dunia ialah tiap-tiap perkara yang tidak dituntut oleh syarak dan ianya sebagai tempat bercucuk-tanam ( berbuat kebaikan dan amalan soleh ) untuk akhirat yang kekal abadi selama-lamanya.

    4. Setiap manusia berkehendak kepada beberapa perkara bagi meneruskan hidup yang mana manusia berkehendak kepada makanan , pakaian , tempat tinggal dan lain-lain lagi.

    5. Oleh yang demikian, sifat zuhud itu adalah mencari keperluan hidup sekadar yang boleh membantu ia untuk beribadah kepada Allah S.W.T.
    ( zuhud orang awam ).

    Add a comment Maret 5, 2007

    Taubat

    1. Iaitu kembali daripada keburukan kepada kebaikan dengan beberapa syarat yang tertentu.

    2. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud :

    ” Dan mohonlah ampun kepada Allah , sesungguhnya ia Maha
    Pengampun lagi Maha Mengasihani ”.
    ( Surah Al – Muzammil – Ayat 20 )

    3. Syarat-syarat taubat adalah seperti berikut :

    • Meninggalkan maksiat atau perkara dosa tersebut.
    • Menyesal atas maksiat atau dosa yang telah dilakukan.
    • Bercita-cita tidak akan mengulanginya lagi.
    • Mengembalikan hak-hak makhluk yang dizalimi.
    • Mengerjakan perkara-perkara fardhu yang telah luput.

    4. Setiap manusia tidak dapat mengelakkan dirinya daripada tersalah dan terlupa, melainkan manusia yang Ma’asum ( terpelihara daripada dosa ) seperti rasul-rasul dan nabi-nabi.

    5. Seseorang itu hendaklah bersungguh-sungguh memelihara diri daripada dosa iaitu dengan memelihara seluruh anggota daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh agama.

    6. Beberapa faedah dan hikmah taubat iaitu:

    • Menghidupkan jiwa yang resah kerana dosa.
    • Mendekatkan diri kepada Allah S.W.T .
    • Meningkatkan ketaqwaan diri.
    • Membenteras tipu-daya syaitan yang selama ini memerangkap manusia
      dengan berbuat dosa dan maksiat.
    • Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah S.W.T. dalam hidup di dunia
      dan akhirat.

    Add a comment Maret 5, 2007

    Ikhlas

    1. Sifat ikhlas ialah menumpukan niat bagi setiap ibadah atau kerja yang dilakukan semata-mata kerana Allah s.w.t. dan diqasadkan ( niat ) untuk menjunjung perintah semata-mata serta membersihkan hati dari dosa riya’ , ujub atau inginkan pujian manusia.2. Firman Allah s.w.t. di dalam Al-Quran yang bermaksud :

    “ Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah s.w.t. dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya , lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat dan yang demikian itulah agama yang benar “.
    ( Surah Al-Bayyinah – Ayat 5 )

    3. Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibersihkan daripada sesuatu tujuan yang lain daripada taat kepada perintah Allah s.w.t.

    4. Hendaklah dibersihkan niat dari sebab-sebab yang lain dan dari sifat-sifat yang keji ( sifat mazmumah ) seperti riya’ , ujub , inginkan kemasyhuran dan lain-lain lagi.

    5. Dalam meninggalkan larangan Allah s.w.t. hendaklah diniatkan untuk taat semata-mata bukan kerana malu kepada makhluk atau sebagainya.


    Add a comment Maret 5, 2007

    Ridho

    1) Sifat ridha adalah sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.

    2) Pengertian ridha ialah menerima dengan senang segala apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) atau pun qada’ atau sesuatu ketentuan dari Allah s.w.t.

    3) Ridha terhadap Allah s.w.t terbagi menjadi dua :

    • Ridha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
    • Ridha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.

    Ridha Menerima hukum Allah s.w.t. :

    Ridha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi dari kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. karena menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

    Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syari’at yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah karena cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

    Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
    ” Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh “. ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )

    Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :
    ” Dan alangkah baiknya jika mereka ridha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ‘ Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami karunianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju “.
    ( Surah At Taubah : Ayat 59 )

    Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib atau pun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan ridha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .

    Itulah sifat ridha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Ridha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.

    Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
    ” Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang dibenci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. ‘Kami akan tuntut kamu dalam sebagian urusan kamu, Tetapi Allah mengetahui apa yang tidak mereka ketahui “. ( Surah Muhammad : Ayat 26 )

    Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak ridha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh ridha dan yang tidak ridha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang ridha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak ridha itu adalah gejala nifaq.

    Redha Dengan Qada’ :

    Ridha dengan qada’ yaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat atau pun berupa musibah ( malapetaka ). Di dalam hadisth diungkapkan bahwa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. yaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah atau pun dalam keadaan senang.

    Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperoleh kegembiraan, Baginda berkata :
    ” Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan “.

    Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :
    ” Segala puji bagi Allah atas segala perkara “.

    Perintah ridha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan di dalam hadisth Baginda yang lain yang bermaksud :

    ” Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendaklah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! ” Karena sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan ” . (Riwayat Muslim)

    Sikap ridha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :

    Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahwa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya karena bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

    Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.

    Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
    ” Demi Allah yang jiwaku ditangan-Nya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandung kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin. Jika ia memperoleh kegembiraan dia berterima kasih berarti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar berarti kebaikan pula baginya “.
    ( Riwayat Muslim )

    Add a comment Maret 5, 2007

    Laman

    Kategori

    Tautan

    Meta

    Kalender

    Desember 2017
    S S R K J S M
    « Jul    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

    Posts by Month

    Posts by Category