Abdullah Bin Hisyam

Namanya
Abdullah bin Hisyam bin Zuhrah bin Usman bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah At-Taimi Al-Qurasyiy. Ibunya bernama Zainab binti Humaid r.a.
Kehidupanya
Beliau dilahirkan pada tahun keempat Hijriyah. Setelah ibunya merasa agak segar sehabis melahirkannya, bayi itu dibawanya kehadapan Nabi saw sambil berkata, “Ya Rasulullah ! Lakukanlah Bai’ah kepadanya”. Tapi karena masih bayi Nabi saw tidak melakukan bai’ah kepadanya hanya diusapnya kepala bayi itu sambil didu’akanya, untuk mendapat berkat.

Demikian cundanya Abu Uqail Zuhrah bin Ma’bad bercerita bahwa ia pernah dibawa berjalan oleh datundanya Abdullah bin Hisyam ini ke pasar untuk membeli makanan. Ketika berjumpa dengan Ibnu Umar dan Ibnu Zubair keduanya berkata kepada datundanya, “Ikut sertakanlah kami memakannya, karena Nabi saw telah mendu’akanmu mendapat berkat”.
Beliaulah pula yang menceritakan bahwa para sahabat Nabi saw mempelajari du’a bagaimana mempelajari Al-Quran, bilamana memasuki bulan baru atau tahun baru, “Ya Tuhan masukanlah kami ke dalam lingkungan bulan atau tahun baru ini dengan rasa aman, penuh iman, mendapat keselamatan dan damai, mendapat perlindungan-Mu dari pada gangguan syaitan dan mendapat keridhaan daripada-Mu yang bersifat pengasih lagi penyayang”.

Tidak ada keterangan bagaimana perjuangan beliau setelah dewasa dalam akhir-akhir zaman khalifah Umar dalam zaman khalifah-khalifah Usman dan Ali, sehingga wafat dalam zaman khalifah Mu’awiah di tempat kediamannya di Madinah.
Riwayatnya
Beliau mendapat kehormatan dari Allah SWT dengan pengabdian namanya dalam Shahih Bukhari dan kitab-kitab enam yang lainya. Cundanya Abu Uqail Zuhrah bin Ma’badlah yang sering meriwayatkan hadist nabi saw daripadanya.
Demikianlah semoga Allah SWT memperkenankan kita dapat bertemu muka dan bergaul dengan beliau dalam syurga kelak, amiin ya Rabbal’alamiin.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Busyr Al-Aslami

Namanya
Abdullah Bin Busyr Al-Aslami, sedang nama panggilanya ialah Abu Shafwan atau Abu Busrin.
Kehidupanya
Beliau termasuk orang-orang yang terdahulu masuk Islam, sebab beliau mengalami melakukan sembahyang kepada dua kiblat: mula pertama kiblat baitulmaqdis dan kedua barulah berkiblat ke Ka’bah di Mekah.
Sudah tentu beliau dapat mengikuti jejak Rasulullah saw, kemanapun beliau berada, baik dalam kota maupun di luar kota, baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang.

Beliau dikatakan oleh Hafizh Ibnu Hajar, “Adalah seorang shahabat kecil yakni masih kanak-kanak, ia dan orang tuanya adalah shahabat.
” Ibnu Atsir menerangkan bahwa beliau adalah shahabat Nabi saw begitu juga kedua ibu bapaknya, saudara laki-laki bernama Athiah dan saudara perempuannya bernama Suamma’.
Beliau mempunyai semacam tahilalat besar pada bagian mukanya. Ia mendapat kehormatan dari Nabi saw dengan doa, ketika pada suatu hari Nabi saw meletakan tangannya yang mulia ke atas kepala Abdullah ini lalu mendoakannya, kemudian beliau bersabda, “Anak ini akan hidup (panjang usianya) sampai satu abad.” Dan sambungnya lagi, “Ia tidak akan meninggal sehingga hilang terlebih dahulu tahilalat dari bagian mukanya.”

Demikianlah Abdullah bin Busr panjang usianya hingga mencapai seratus tahun. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Hingga mencapai usia sembilan puluh empat tahun dan beliau meninggal pada tahun 88 H. Dan memang sebelum meninggalnya telah tidak kelihatan lagi tahilalat itu.”
Ada orang mengatakan bahwa beliau meninggal di Himsh dalam daerah siriya. Beliaulah shahabat yang terakhir wafat di negeri Himsh itu malah ia pula shahabat yang terakhir sekali meninggal dunia di daerah Syam/Siriya, pada tahun 96 H.

Diantara hdist yang diriwayatkan beliau juga mengenai panjang umur, “Orang yang paling baik itu ialah orang yang panjang usianya dan baik pula amal kerjanya.” Dan dalam hidupnya beliau telah pula berdaya upaya untuk dapat memenuhi maksud hadist yang diriwayatkannya itu. Memang Islam tersebar, dibela dan dimuliakan oleh para pemuda yang berbakat dan berakhlaq seperti beliau ini.
Beliau wafat pada zaman khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 88 H atau 96 M.

Riwayatnya
Riwayat hadist yang dikumpulkan orang-orang dari beliau ada sebanyak 50 hadist. Bukhori sendiri meriwayatkan satu hadist, begitu juga Muslim satu hadist.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Yazid

Namanya
Abdullah bin Yazeid bin Zaid bin Hishn bin ‘Amr bin Al-Harts bin Khathmah bin Jusym bin Malik bin Aus Al-Khathmi Al-Anshari r.a. Nama panggilannya ialah Abu Musa, namun ia terkenal dengan nama aslinya.

Kehidupanya
Oleh karena orang tuanya Yazeid bin Zaid seorang sahabat Nabi saw, maka Abdullah tidak ada yang menghalangi pertumbuhan dan perkembangan iman dan ilmu pengetahuannya. Karena itu beliau terhitung pemuda sahabat yang ahli ibadah dan wara’. Beliau banyak sekali melakukan sholat apalagi shalatul-lail. Sedang dalam hal puasa, beliau sangat tekun sekali melakukan shaum/puasa ‘Asyura’.

Perang sabiel yang pertama dan kedua yaitu ghazwah Badr dan Uhud tak dapat diikutinya. Sebab pada waktu itu beliau masih kecil belum memenuhi syarat. Beliau bangga sekali dapat ikut serta dalam Bai’atus-Syajarah/ Bai’atur-Ridhwan meskipun terhitung masih kanak-kanak. Dan sejak itu beliau tidak pernah absen dalam mengikuti perjuangan Nabi saw hingga wafatnya.

Dalam Zaman Khilafa’ Rasyidin
Menurut Ibnu Abdil-bar, usia beliau ketika mengikuti bai’atur-Ridhwan di atas tujuh belas tahun. Jika demikian maka beliau sudah tentu mengikuti perjuangan menumpas kaum murtaddien dan orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dalam zaman khalifah Abu Bakr, ikut pula perjuangan mengembangkan sayap Islam k daerah-daerah Timur Tengah lainnya dalam zaman Umar dan Usman. Sedang dalam zaman khalifah Ali, beliau sepenuhnya memihak kepada Ali termasuk peristiwa ‘Shiffien’, sehingga beliau pernah menjabat wali kota kufah dari pihak khalifah Ali, sedang sekretarisnya Sya’bi seorang tabi’ie yang terkenal, hal mana menunjukan bahwa beliau mendapat kepercayaan dan dukungan dari kalangan masyarakat masanya.

Keadaan politik pada waktu itu berubah dengan pengunduran diri yang dilakukan oleh khalifah Hasan bin Ali dan menyerahkannya kepada Mu’awiah, menyebabkan Abdullah ini untuk sementara berdiam diri di rumahnya di kota Kufah sambil mengajar agama tentunya kepada masyarakat.

Dalam Zaman Daulah Umawiyyah
Demikian ketika khalifah Mu’awiah berkuasa Abdullah hanya muncul sesekali dalam pengajian-pengajian. Namun setelah khalifah Mu’awiah wafat dalam tahun 60 H, beliau mulai menampakan diri di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar. Sebab Yazid bin Mu’awiah yang ditunjuk ayahnya sebagai penggantinya menjadi khalifah ternyata seorang yang tidak memenuhi syarat. Beliau mengadakan surat menyurat dengan Abdullah bin Zubair yang telah berhasil menguasai daerah hijaz Mekah dan sekitarnya yang juga tidak setuju dengan Yazid di atas. Beliau berangkat ke Mekah dan ikut berjuang bersama-sama dengan rekannya Abdullah bin Zubair. Demikianlah hingga pernah beliau menjabat wali kota Mekah sebentar dari pihak khalifah Abdullah bin Zubair. tapi karena dorongan taqwa dan wara’nya beliau mengundurkan diri dan bermukim beberapa waktu di Mekah untuk melakukan ibadah.

Wafatnya
Setelah puas beribadah di Mekah beliau pulang kembali ke Kufah dan jatuh sakit hingga membawa mautnya. Beliau wafat dalam masa kekuasaan khalifah Abdullah bin Zubair yang wafat dalam tahun 73 H.

Riwayatnya
Demikian orang yang tadinya terkenal sebagai shahabat kecil masih muda belia ketika hidupnya Nabi saw, tapi berkat do’a beliau, ia menjadi orang yang pernah berjasa juga dalam mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Timur Tengah dan dengan demikian mendapat imbalan jasa dari Allah SWT. Dengan kekal abadinya nama beliau dalam kitab-kitab hadist terutama Shahih Bukhari dan Muslim.

Orang yang berhasi mengambil hadist-hadist dari beliau ialah terutama anaknya sendiri bernama Musa dan cundanya ‘Adi bin Tsabit, As-Sya’bi, Abu Ishaq, Ibnu Sierin dll.
Beliau selain mengambil hadist langsung dari Nabi saw, juga mengambilnya dari Al-Bara’ bin ‘Azib dan terdapat dalam Shahihain’ dari Abu Ayyub Al-Anshari, Ibnu Mas’ud, Hudzaifah, Qais bin Sa’ad, Zaid bin Tsabit dll.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Qais

Kehidupanya
Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Isti’aab menyebut beberapa orang orang yang bernama Abdullah bin Qais, yaitu;

1. Abdullah bin Qais bin Khalid bin Harts bin Sawad bin Malik bin Ghunm bin Malik bin Najjar. Beliau pernah ikut bertempur dalam ghazwah Badr dan gugur sebagai syahid dalam ghazwah Uhud.

2. Abdullah bin Qais bin Shakhar bin Haram bin Rabi’ah bin ‘Adi bin Ghunm bin Ka’ab bin Salamah Al-Anshari. Beliau ini juga pernah ikut dalam ghazwah badr dan juga dalam ghazwah Uhud.

3. Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Asham bin Harim bin Rawahah bin Hujr bin ‘Abd bin Mu’aish bin ‘Amir bin Luaiy Al-‘Amiri yang lebih dikenal dengan nama panggilanya Ibnu Ummi Maktum. Tapi banyak pula orang menyebut namaya yang benar ‘Amr Ibnu Ummi Maktum.

4. Abdullah bin Qais Al-Khuza’i atau Al-Aslami.

5. Abdullah bin Qais yang terkenal dengan nama panggilannya Abu Musa Al-Asy’ari.

Sedang dalam Al-Ishaabah pada huruf ‘ain tidak terdapat orang orang yang bernama Abdullah bin Qais. Nama-nama tersebut di atas didapat dari Shahih Muslim dalam bab shifat khemah-khemah syurga.
Abdullah bin Qais yang manapun diantara yang ketiga di atas, semoga Allah SWT memperkenankan kepada kita dapat bergaul dan berkumpul dengan mereka itu dalam syurga kelak, amiin.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Al-Harits

Namanya
Abdullah bin Al-Harits bin Jaz-in bin Abdillah bin Ma’dikariba bin ‘Amr bin ‘Asm bin ‘Amr bin ‘Uwaij bin ‘Amr bin Zabied Az-Zabiedi.
Kehidupanya
Beliau adalah seorang kawan dan bersumpah setia dengan Abu Wada’ah As-Sahmi dan anak saudara pria dari Mahniyyah bin Jaz-in Az-Zabiedi yang menurut Ibnu Yunus bahwa pamannya ini pernah ikut dalam ghazwah Badar dan gugur sebagai Syahid dalam pertempuran Yamamah ketika menumpas Nabi palsu Musailimatul-kadzdzab.

Tidak ada keterangan mengenai perjuangannya dalam zaman Nabi saw dan para khulafa’ Rasyidin. Namun setelah Islam berkembang di Timur Tengah dan di Mesir beliau akhirnya memilih tempat tinggal di Mesir.
Menurut At-Thabari, dahulunya beliau bernama Al-‘Ashi (dapat diartikan pelaku maksiat), lalu diubah Nabi saw dengan nama Abdullah. Beliaulah shahabat yang terakhir sekali meninggal di Mesir dan akhir hayatnya beliau mengalami buta mata.
Beliau wafat pada tahun 86 H, atau sekitar tahun 85 atau 87 H. dan telah mengambil beberapa hadist langsung dari Nabi saw. Oleh karena beliau lama tinggal di Mesir, maka yang terbanyak mengambil hadist dari beliau ialah para ulama tabi’ien dari Mesir dan terakhir ialah Yazied bin Abi Hubaib.

Demikian disebutkan dalam Al-Ishaabah dan Al-Isti’aab, jilid II, halaman 291 dan 281.
Tapi dalam “Riadhus-Shalihien”, imam Nawawi menyebut nama, Abdullah bin Al-Harits bin As-Shimmah dengan nama panggilanya Abdul-Juhaim. Nama ini tidak terdapat dalam kedua kitab di atas.
Ibnu Illaan dalam syarahnya “Dalilul-Falihien”, jilid IV halaman 582 menerangkan bahwa Abdullah bin Al-Harits bin As-Shimmah, menurut Usdul ghaabah adalah anak kakak wanita dari Ubai bin Ka’ab Al-Anshari. Beliau hanya meriwayatkan dua hadist saja dari Nabi saw. Kedua-duanya tersebut dalam Bukhori dan Muslim di mana satu diantaranya disebutkan dalam Riadhus-shalihien di atas.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Khubaib

Namanya
Abdullah bin Khubaib Al-Juhani, seoarng yang telah bersumpah setia dengan Al-Anshar.
Kehidupanya
Tidak panjang riwayat hidupnya yang kita dapati. Hanyalah keternagan bahwa:

· Beliau dengan bapaknya Khubaib kedua-duanya shahabat Nabi saw
· Beliau dan orang tuanya termasuk dalam hitungan para shabat yang tinggal berdiam di Madinah.
· Beliau meriwayatkan hadist dari Nabi saw, yakni dapat dicatat hanyalah tiga hadist saja. Diantaranya, “Rasulullah saw telah bersabda kepadaku, ‘Bacalah Qul Huwallah Ahad dan dua Mu’awwidzatain ketika sore dan ketika pagi tiga kali. Suarh-surah ini akan melindungi engkau dari segala sesuatu.'” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

· Yang mengambil riwayatnya hanyalah anaknya sendiri bernama Mu’adz.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Zam’ah

Namanya
Abdullah bin Zam’ah bin Aswad bin Muttalib bin Asad bin Abdul-Uzza Al-Asadi Al-Qurasyi ra. Ibunya bernama Quraibah binti Umaiyah.
Kehidupanya
Ibunya adalah saudara Ummul-Mukminin Ummu Salamah ra. Jadi beliau adalah keponakannya. Karena itu beliau termasuk orang bangsawan Quraisy dan juga berpengaruh dalam kaumnya.
Bapaknya Zam’ah dan saudaranya ‘Aqiel bin Aswad mati terbunuh dalam Ghazwah Badr, sedang datuknya Aswad termasuk golongan mereka yang sering mengolok-olok dan mengejek Nabi saw.

Beliau ikut hijrah dan berdiam ke dan di Madinah hingga wafatnya. Diantara orang-orang yang mengambil riwayat hadist dari beliau adalah Abu Bakr bin Abdirrahman dan ‘Urwah bin Zubair.
Menurut riwayat Abu Bakr bin Abdirrahman dari beliau, Nabi saw pernah bersabda, “Suruhlah Abu Bakr agar menjadi imam pada kaum muslimin (sewaktu Nabi saw sedang sakit keras).
Sedang menurut riwayat Urwah bin Zubair tiga hadist:

· Mengenai memukul wanita/isteri
· Melarang ketawa kalau ada yang berkentut
· Cerita unta betina Mu’jizat Nabi Shaleh as

Ketika Yazied bin Mu’awiah datang ke Madinah dalam peristiwa HARRAH, anak-anak beliau bernama Yazied bin Abdullah bin Zam’ah dan lain-lain banyak mati dibunuh dalam keadaan teraniaya.
Seorang anak Abdullah bin Zam’zh ini juga bernama Katsier yang diberi nama oleh neneknya Ummu Salamah isteri nabi saw menjadi datuk dari Abul Buhturi al-Qadhi wahb bin Wahb bin Katsier bin Abdullah bin Zam’ah.
Demikianlah menurut keterangan Abu Hassan Az-Ziadi, beliau wafat sebagai syahied akhirat terbunuh dalam peristiwa YAUMUD-DAR tahun 35 H.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Zaid Bin ‘Ashim

Namanya
Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab bin ‘Amr bin A’uf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghunm bin Mazin Al-Mazini Al-Anshari ra.
Nama Panggilanya ialah Abu Muhammad. Beliau terkenal juga dengan Ibnu Ummi ‘Amarah. Namun sangat terkenal dengan nama aslinya.
Ibunya bernama Nusaibah binti Ka’ab bin ‘Amr bin A’uf yang terkenal dengan Ummu ‘Amarah pahlawan sahabat wanita dan srikandi yang terkenal dalam sejarah Islam. Jadi beliau adalah saudara Hubaib dan Tamiem bin Zaid ra.

Kehidupanya
Menurut Abu Ahmad Al-Hakim, Ibnu Madah dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak bahwa beliau ikut bertempur dalam ghazwah Badr apalagi ghazwah Uhud dan seterusnya.
Ketika zaman khalifah Abu Bakr, beliau ikut pula bersama-sama dengan ibunya Nusaibah dan saudara-saudaranya Hubaib dan Tamiem, bertempur dalam perang menumpas gerakan Musailimatul Kadzdzab. Sebelumnya Musailimah telah menyiksa saudaranya Hubaib memotong anggota badannya satu persatu hingga akhirnya ia gugur sebagai syahied. Mendengar peristiwa yang mengerikan itu semangat jihad kaum muslimin tambah meluap. Hingga akhirnya Abdullah b. Zaid ini berhasil bersama-sama dengan wahsyi b. Harb (yang pernah membunuh Hamzah, paman Nabi saw dalam ghazwah Uhud sewaktu ia masih kafir) membunuh Musailimah itu sendiri dengan pedangnya. Dengan kejadian itu ibunya Ummu Amarah Nusaibah sangat merasa puas dan bersyukur pada Tuhan apalagi dengan gugurnya kedua anak kandungnya Hubaib dan Tamiem sebagai syahied.

Riwayat perjuangan beliau dalam ketiga zaman khulafa lainnya tidak pernah penulis jumpai. Ketika Yazied yang sangat ambisius kekuasaan itu memaksa orang-orang untuk mengakuinya sebagai khalifah, beliau tidak mau melakukan bai’ahnya. Beliau berkata: “Demi Allah aku tidak mau melantik seseorang sesudah Rasulullah SAW.” Demikianlah beliau dibunuh dengan tenang dalam peristiwa HARRAH pada tahun 63 H. di Madinah.
Beliau meriwayatkan hadts wudhu dan beberapa hadits lain lagi sedang para Tabi’ien yang berhasil mengambil riwayat dari beliau ialah antara lain Said b. Musaiyab, Abbad b. Tamiem anak saudaranya, Yahya b. Amarah, Wasi’ b. Habana dan lain-lain.

Demikianlah semoga Allah SWT memperkenankan kita dapat bergaul dengan beliau pada hari kiamat dan dalam syurga kelak, amin ya Rabbal alamiiin.

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin As-Saaib

Namanya
Abdullah b. As-Saaib Shaifi b. Aidz b. Abdullah b. Amr b. Makhzum Al-Makhzumi.
Nama Panggilanya ialah Abu Abdirrahmaan, namun beliau terkenal dengan nama aslinya.
Kehidupanya
Abdullah b. As-Saaib pada akhir hayatnya berdiam di Mekah. Beliau termasuk shahabat yang hafal Al-Qur’an dan ahli baca Al-Quran terutama bagi kota Mekkah. Beliau diberi nama julukan “Qori’ Mekkah.” Beliau pernah juga belajar Al-Quran pada sahabat terkenal Ubai bin Ka’ab ra.

Beliau ketika pembebasan kota mekkah (fat-hu Makkah) pernah dalam sholat berjamaah shubuh mendengar Nabi saw membaca surat Al-Mukminin (lihat Muslim).
Beliau Pula yang meriwayatkan hadist yang menyatakan bahwa Nabi saw sering membaca doa, “Rabbana Atina fid-dunia hasanah dan seterusnya,” di antara dua sudut Ka’bah, rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad.
Demikianlah beliau tinggal berdiam di Mekkah hingga menutup usianya pada masa Khalifah Abdullah bin Zubair ra. Ketika kuburan beliau telah selesai, Abdullah bin Abbas berdiri dekat kuburan itu sambil berdoa.

Riwayatnya
Allah SWT menganugerahkan kepada beliau nama yang abadi yang termaktub dalam shahih Muslim satu hadist sedang linya terdapat dalam Sunan yang empat. Hingga hadist riwayat beliau semuanya berjumlah 7 (tujuh) hadist.
Oleh :
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Add a comment Maret 13, 2007

Abdullah Bin Sirjis

Namanya
Abdullah b. Sirjis Al-Muzani dari qabilah Muzainah. Beliau pernah bersumpah setia dengan Bani Makhzum.
Kehidupanya
Abdullah salah seorang sahabat Nabi saw yang pernah makan roti dan daging bersama beliau dan ia pernah melihat cap kenabian Rasulullah saw (Khatamun Nubuwah). Dalam hadist riwayatnya juga pernah ia mohon kepada Nabi saw untuk minta kepada Allah agar mengampuni dosanya. Beliau tinggal di Bashrah.
Riwayatnya
Allah SWT telah berkenan mengabdikan nama beliau dalam 17 (tujuh belas) hadist, di antaranya disebutkan Muslim sendiri saja tiga hadist. Selain dari itu tersebar dalam Sunan-sunan yang empat. Diantara tiga hadist yang disebutkan dalam Muslim ialah, “Adalah Rasulullah saw apabila hendak berangkat bepergian beliau berlindung (memohon perlindungan Allah SWT) dari lelahnya perjalanan, berbaliknya kepada keadaan yang menyedihkan jatuhnya atau menurunnya keadaan sesudah mendapat ketinggian atau berbaliknya dari tetap pendirian menjadi tidak tetap atau menjadi mundur setelah tadinya maju dan bertambah-tambah, juga dari doa orang teraniaya dan melihat pemandangan yang tidak menyenangkan pada atau dalam keluarga/ahli-famili dan harta.”

Add a comment Maret 13, 2007

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Agustus 2017
S S R K J S M
« Jul    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Most Recent Posts